Senin, 06 Februari 2012

Kamis, 02 Februari 2012

Mempopulerkan Pendidikan Hati


Persoalan fundamental yang dihadapi masyarakat modern seperti keterpecahan individu (split individuality), keterasingan alienation memicu munculnya kesadaran epistemologis baru bahwa persoalan kemanusian tidak cukup diselesaikan secara empirik rasional, tetapi perlu jawaban yang bersifat transendental. Dalam kondisi seperti itu, lahir Spiritual Quotient (SQ) yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan persoalan nilai agar hidup manusia menjadi lebih bermakna. SQ merupakan kecerdasan tertinggi manusia yang digunakan sebagai landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan diri manusia yang terdalam dan merupakan inteligensi yang dapat menampilkan sikap kreatif dalam memecahkan problem makna hidup seseorang, memberikan rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku, dan kemampuan untuk mengadakan perubahan terhadap situasi tersebut (Danah Zohar, 2000: 4).

Perlunya “Rekaman Medis” Pendidikan


Ijazah saja tidak cukup. Oleh karena itu, SMK memberikan sertifikat tambahan kepada peserta didik yang memiliki keterampilan khusus. Selain itu, beberapa madrasah juga memberikan sertifikat tahfidz al-qur’an kepada siswa yang telah menghafal al-Qur’an. Apapun bentuk sertifikat yang diberikan sekolah menunjukkan bahwa siswa tidak hanya membutuhkan ijazah. Jika sertifikat keterampilan berfungsi untuk mempermudah siswa dalam mencari kerja, maka sertifikat tahfidzul qur’an berfungsi untuk menerangkan bahwa siswa yang bersangkutan telah menghafal al-Qur’an dan memotivasinya untuk terus menghafal.
Namun semua itu belum cukup, jika siswa tidak memiliki rekaman kepribadian selama menempuh pendidikan. Oleh karena itu sekolah dapat memberikan catatan kepribadian atau “rekaman medis” pendidikan kepada peserta didik sesuai dengan perilaku yang mereka lakukan selama menempuh proses belajar.

Rabu, 01 Februari 2012

Pemberian Azka

Mandiri

“Diva pelit, Diva pelit…!” umpat Azka ketika sampai di rumah.
“Wah…! Belum memberi salam kok sudah marah-marah. Ada masalah apa dengan Diva?” Tanya ibunya.
“Masa, Diva tidak mau membagi air minum. Aku kan kehausan,” keluh Azka.
Azka pun bercerita bahwa setelah bertugas sebagai pemimpin upacara, ia sangat haus. Sedangkan air minumnya sudah habis ketika istirahat pertama. Itupun ia bagi-bagikan kepada teman yang memintanya, termasuk Diva. Tetapi, Diva tidak mau memberikan air minumnya ketika Azka membutuhkan.